Artikel

Kiat Mempersiapkan Pendidikan Anak Autis

Pendidikan untuk anak autis

Meski kini makin banyak sekolah umum yang menerima anak dengan autisme, pakar autis Indonesia, Dr. Rudy Sutadi mengatakan orangtua tetap perlu melakukan persiapan. Ini agar anak autis merasa nyaman dan berangkat ke sekolah tanpa rasa was-was bisa diterima lingkungan sekolah, guru, dan teman-temannya.

Ia mengakui kunci sukses penanganan anak autis adalah kasih sayang, kesabaran ekstra, pendekatan,komunikasi, dan dukungan kuat dari keluarganya. “Jangan terlalu berharap tinggi anak autis yang masuk sekolah umum diserahkan sepenuhnya pada guru saja. Justru peran dan dukungan keluarga yang paling pokok,” katanya.

Memang ada beberapa sekolah umum yang melengkapi tenaga terapi, namun sebaiknya kelas untuk anak autis di sekolah umum harus memiliki peran bayangan untuk membantunya belajar di sekolah.

Rudy juga berpendapat sebaiknya orangtua yang memasukkan anak autis kesekolah umum jangan mengejar target anak itu bisa pintar seperti anak normal lain. “Ada baiknya orang tua memahami kondisi anaknya, misalnya soal umur.

Jangan memaksakan anak autis yang berusia 9 tahun harus masuk ke kelas tiga,” katanya. Sebaiknya anak tersebut dimasukkan di kelas awal supaya bisa menyesuaikan diri. Toh, menurut Rudi, ada baiknya juga anak yang masuk sekolah umum memenuhi persyaratan yang ditetapkan sekolah umum.

Kata Rudy, anak autis punya kecenderungan meniru sesuatu atau lingkungan disekitarnya. Bila anak autis dimasukkan ke sekolah umum tempat anak-anak normal dan proses belajar yang baik, ini akan lebih mudah ditiru anak-anak autis. Karena itu ia menyarankan beberapa faktor penting sebagai persiapan khusus anak autis ke sekolah umum.

  1. Pastikan anak autis tersebut sudah bisa duduk tenang dan bersikap mandiri. Bila masih senang berlarian ke sana ke mari atau tidak bisa diam sebaiknya jangan dimasukkan ke sekolah karena bisa mengganggu ketertiban proses belajar dirinya dan lingkungan sekolah.
  2. Sebaiknya anak sudah memenuhi prasyarat bahasa, paling tidak bisa mengucapkan satu kata atau melaksanakan perintah bertahap umum. Hal ini penting ketika di sekolah ia bisa mengucapkan kata yang dipahami guru dan murid lainnya. Misal si anak bisa berucap “pipis” atau “kebelakang” secara personal supaya si guru langsung tanggap mengajak anak autis tersebut ke belakang agar tidak pipis atau ngompol di kursinya.
  3. Anak autis yang sudah bisa menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan misalnya “siapa namanya?”, “di mana rumahnya?” dan sebagainya. Ini sangat membantu interaksi sosial dan komunikasi efektif ketika menerima pelajaran di sekolah.
  4. Anak autis sudah bisa melakukan pekerjaan ringan seperti menaruh benda-benda di tempat asalnya, mencuci tangan ke belakang dengan tenang dan baik. Hal ini perlu supaya di sekolah si anak tersebut bisa aktif dan berani mengikuti aktivitas sosial seperti membantu membawakan buku-buku, tas atau benda lain milik kawan atau guru yang kebetulan jatuh di depan matanya.
  5. Sebaiknya anak yang sudah bisa berkomunikasi, walau kontak matanya tidak mengarah pada lawan bicaranya, bisa dilibatkan di dalam diskusi kelompok. Pastikan anak tidak lagi bersikap agresif menyerang atau sering menghentak-hentakkan kaki, berguling-giling supaya tidak membahayakan teman dan gurunya.
  6. Anda harus berani bersikap bijaksana jangan memaksakan anak autis masuk ke kelas yang tinggi karena usianya sudah besar. Tidak ada salahnya anak autis berusia 7 tahun dimasukkan ke sekolah TK A atau B supaya tidak terlalu kaget saat beradaptasi.
  7. Ciptakan masa penyesuaian selama enam bulan sampai setahun bagi anak autis. Pada masa orientasi ini hendaknya jangan berharap banyak, yang penting anak autis Anda tenang, riang, dan aman masuk ke sekolah umum.

 

Tinggalkan Komentar

Jadi yang pertama berkomentar!

Notifikasi
avatar
wpDiscuz