Artikel

Memilih dan Mempersiapkan Jalur Pendidikan Anak Autistik  Bagian 1

MODEL LAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK AUTISTIK

Salah satu bentuk pelayanan untuk anak autistik adalah melalui pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan anak. Program pengajaran terstruktur dinyatakan sebagai cara untuk memperoleh kemajuan yang besar. Hal ini terjadi karena guru secara aktif mengambil inisiatif untuk berinteraksi dan memberi petunjuk, juga guru menjalankan tugasnya dari bagian terkecil sehingga anak mudah mengikuti tahap‐tahap pembelajaran untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Hal ini juga membuat anak autistik dapat memperkirakan apa yang akan didapatnya. Perubahan mendadak kadang membuat anak‐anak panik dan tantrum. Namun tetap perlu mengajarkan juga hal‐hal yang spontan dan fleksibel terutama dalam ketrampilan sosialnya. (Baron‐Cohen, 1993).

Bentuk layanan pendidikan anak autistik pada dasarnya terbagi menjadi:

  1. Layanan Pendidikan Awal, yang terdiri dari Program Terapi Intervensi Dini dan Program Terapi Penunjang.
  2. Layanan Pendidikan Lanjutan, yang terdiri Kelas Transisi atau Kelas Persiapan dan program lanjutan lainnya seperti Program Inklusi, Program Terpadu, Sekolah Khusus Autistik, Program Sekolah Di Rumah dan Griya Rehabilitasi Autistik.
  3. Layanan Pendidikan Awal
  4. Program Terapi Intervensi Dini

Pada dekade terakhir ini, terjadi banyak kemajuan dalam mengenali karakteristik dan perilaku anak autistik, dimana hasil positif tampak pada anak‐anak usia muda yang mendapatkan intervensi dini. Dengan intervensi dini, potensi dasar (functional potential) anak autistik dapat meningkat melalui program yang intensif. Ini sejalan dengan hipotesa bahwa anak autistik memperlihatkan hasil yang lebih baik bila program intervensi dini dilakukan pada anak usia dibawah 5 tahun dibandingkan diatas 5 tahun. Ada beberapa pendapat mengenai efektifitas pada intervensi dini untuk anak autistik dan masalah perilaku yang disampaikan oleh Dunlap dan Fox di tahun 1996 (Dunlap dan Fox dalam Erba 2000):

  1. Perkembangan awal berhubungan langsung dengan meningkatnya kemampuan berkomunikasi, dan pengalaman komunikasi sosial awal seorang anak menjadi dasar dari perkembangan bahasa dan interaksi sosial di kemudian hari. Karena adanya kerusakan dalam kemampuan dalam berkomunikasi dan berhubungan sosial pada anak autistik, maka intervensi harus dilakukan dengan baik, sejalan dengan perkembangan yang pesat di saat balita. Perkembangan dalam berkomunikasi tampak menurunkan masalah perilaku dan meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya.
  2. Karena tingkah laku anak balita lebih mudah dipahami, maka program intervensi lebih mudah dibuat dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu anak bersangkutan.
  3. Keberhasilan tampak lebih baik bila adanya kolaborasi antara keluarga dengan anak‐anak yang memerlukan layanan khusus (anak MLK) dibandingkan pada keluarga dengan anak MLK remaja dan dewasa. Karena sistem keluarga mempunyai pengaruh pada perkembangan anak‐anak, maka keikutsertaan keluarga dalam seluruh aspek program intervensi sangat penting. Untuk mengoptimalkan hubungan ini, maka intervensi seharusnya dilakukan sedini mungkin.
  4. Autisme biasanya diasosiasikan dengan berbagai perilaku dimana anak, keluarga dan teman sebayanya menjadi terganggu. Oleh sebab itu, lebih mudah melakukan intervensi pada saat anak masih kecil, sehingga perilaku agresif dan menyakitkan diri sendiri seperti memukulkan kepala (head banging) dan menggigit dapat segera diatasi. Pelayanan program intervensi dini wajib disediakan untuk seluruh anak‐anak MLK termasuk anak autistic Untuk program terapi intervensi dini Erba dalam American Journal of Orthopsychiatry (Jan, 2000) membahas empat program intervensi dini bagi anak autistik yaitu:
  5. Discrete Trial Training (DTT), dari Lovaas dkk, 1987
  6. Learning Experience an Alternative Program for preshoolers and parents (LEAP), dari Strain dan Cordisco, 1994
  7. Floor Time, dari Greenspan dan Wider, 1998
  8. Treatment and Education of Autistic and related Communication handicapped Children (TEACCH), dari Mesibov, 1996

Program DTT adalah program individu yang berdasarkan kekurangan pada anak (child’s deficits) , tetapi program intervensinya mengikuti suatu bentuk kurikulum standar. Walaupun profil anak menentukan program awal, tetapi semua anak harus menguasai bahan yang sama untuk semua perintah. Pada program Lovaas, orang tua diminta menyediakan 10 jam dari 40 jam terapi setiap minggunya dan orangtua dilatih dalam melakukan prosedur terapi.

Pada Floor Time orangtua juga dilatih selaku terapis, dan program didasari kekurangan anak itu sendiri(child’s deficits). Baik DTT dan Floor Time dilakukan terutama dirumah. Sebaliknya intervensi dini pada TEACCH dan program LEAP dilakukan di lingkungan sekolah (center) dengan dukungan konsultatif dan bantuan untuk program dirumah. Para orangtua ikutserta secara aktif dalam program terapi, tetapi tidak diminta untuk melakukan intervensi one‐on‐one untuk anak‐anaknya. TEACCH didasari kelebihan anak (strength), sedangkan LEAP didasari kelemahannya (deficit). Semua program menekankan pentingnya program intensif, namun besar waktu intervensi berkisar antara 15 sampai 40 jam per minggu.

Program‐program intervensi dini memperlihatkan efektifitas dan keberhasilannya masing‐masing. Namun, keberhasilan dan efektifitas dari suatu program pada seorang anak dapat berbeda dan tidak efektif bahkan kontraindikasi bila dilakukan pada anak lain. Kerangka teori pada setiap program akan berpengaruh dalam strategi dan metode evaluasi. Maka, keluarga, dokter, dan penyedia pelayanan perlu mengetahui filosofi pada masing‐masing program untuk membuat keputusan yang tepat dalam strategi intervensi.

  1. PROGRAM TERAPI PENUNJANG

Beberapa jenis terapi penunjang bagi anak autistik dapat diberikan yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan anak, antara lain:

  1. Sensory Integration Therapy: terapi yang sangat awal sekali diberikan untuk anak autis, karena masalah sensorinya harus tertangani terlebih dahulu, anak tidak akan bagus di adaptasi, emosi dan menyerap hasil terapi perilaku dan wicara kalau masalah sensorinya masih ada.
  2. Terapi perilaku (Behavior Therapy): membantu anak dalam melakukan perilaku yang normal, dari kontak mata, inisiasi komunikasi, dan pemahaman komunikasi.
  3. Terapi Okupasi: membantu anak dalam atensi, konsentrasi, motorik halus anak, kemandirian dan mampu adapted dalam kehidupan sehari hari.
  4. Terapi Wicara: membantu anak melancarkan otot‐otot mulut sehingga membantu anak berbicara lebih baik dan akhirnya berkomunikasi.
  5. Terapi Bermain: mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain
  6. Terapi Snoezelen: terapi ini digunakan untuk anak=anak yang mengalami gangguan sensorin kompleks, akan sangat membantu menenangkan anak, membantu gangguan emosi yang berlebih, membantu menurunkan hiperaktifitas yang tinggi, dikombinasi dengan Sensori Integrasi terapi, Cuma bedanya snoezelen itu multisensori, sehingga satu saat akan menadapat stimulus yang bersamaan.
  7. Brain Gym therapy: terapi bagi anak autis yang sudah mampu meniru gerakan dan paham instruksi dengan melakukan serangkaian gerak yang bertujuan untuk memaksimalkan kapasitas fungsi dua belahan otak.
  8. Terapi medikamentosa/obat‐obatan (drug therapy): dengan pemberian obat‐obatan oleh dokter yang berwenang.
  9. Terapi melalui makanan (diet therapy): untuk anak‐anak dengan masalah alergi makanan tertentu
  10. Auditory Integration Therapy: agar pendengaran anak lebih sempurna
  11. Biomedical treatment/therapy: penanganan biomedis yang paling mutakhir, melalui perbaikan kondisi tubuh agar terlepas dari faktor‐faktor yang merusak, misalnya keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphin, allergen

(oleh Tri Gunadi, OTR (Ind), S.Psi)

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Jadi yang pertama berkomentar!

Notifikasi
avatar
wpDiscuz