Artikel

Memilih dan Mempersiapkan Jalur Pendidikan Anak Autistik Bagian 2

Layanan Pendidikan Lanjutan

  1. KELAS TRANSISI

Kelas ini ditujukan untuk anak yang memerlukan layanan khusus (anak MLK) termasuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadu dan terstruktur. Program kelas transisi bertujuan membantu anak autistik dalam mempersiapkan transisi ke bentuk layanan pendidikan lanjutan. Dalam kelas transisi akan digali dan dikembangkan kemampuan, potensi dan minat anak, sehingga akan terlihat gambaran yang jelas mengenai tingkat keparahan serta keunggulan anak (child’s deficits and strengths), yang merupakan karakteristik spesifik dari tiap‐tiap individu.

Berdasarkan karakteristik dan tingkat kemajuan anak yang dicapai dalam program sebelumnya, dapat dibuat rencana pendidikan lanjutan yang paling sesuai. Kelas Transisi merupakan titik acuan dalam pemilihan bentuk pendidikan selanjutnya. Kelas Transisi dapat pula merupakan kelas persiapan dan pengenalan akan pengajaran dengan menggunakan acuan kurikulum SD yang berlaku yang telah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhannya. Dalam hal ini idealnya penyelenggaraan kelas transisi sedapat mungkin dibawah naungan SD reguler.

Siswa kelas transisi pada saat tertentu dapat digabungkan dengan siswa SD reguler, sehingga siswa –siswa ini dapat bersosialisasi dengan anak yang lain. Jadi tujuan kelas transisi adalah membantu anak MLK dalam mempersiapkan transisi ke sekolah reguler, dan ke bentuk layanan pendidikan lanjutan lainnya.

Prasyarat umum:

  1. Anak autistik sudah pernah menjalani terapi intervensi dini
  2. Karakteristik anak: tidak mendistraksi teman lain dan tidak terdistraksi oleh adanya teman lain (bisa belajar secara klasikal)
  3. Diperlukan guru terlatih dan terapis, sesuai dengan keperluan anak didik (terapis perilaku, terapis bicara, terapis okupasi dsb)
  4. Kurikulum masing‐masing anak dibuat melalui pengkajian oleh satu team dari berbagai bidang ilmu (psikolog pendidikan khusus anak, pedagogi, speech patologist, terapis baik itu terapis okupasi, terapis wicara, guru dan orang tua/relawan).

Prasyarat untuk program transisi ke sekolah umum:

  1. Usia anak antara 4 sampai 8 tahun
  2. Karakteristik anak: verbal, sudah dapat menerima instruksi dan sudah ada kontak mata, dengan batasan kemampuan adalah program kurikulum awal dari manual yang dibuat oleh Catherine Maurice, 1996
  3. Masalah utama adalah dalam sosialisasi dan akademis, termasuk masalah konsentrasi, kepatuhan dan dalam berinteraksi dengan teman sebaya
  4. Diperlukan guru SD umum terlatih dan terapis sebagai pendamping.
  5. Kelas ini berada dalam satu lingkungan sekolah reguler untuk memudahkan proses transisi dilakukan ( mis: mulai latihan bergabung dengan kelas reguler pada saat olah raga atau istirahat atau prakarya dsb).

Walaupun anak sudah patuh dan dapat berkonsentrasi pada saat terapi, tetapi di kelas transisi anak masih memerlukan waktu penyesuaian untuk dapat mengikuti tatacara pengajaran yang berbeda dengan pada saat terapi. Anak biasa ditangani dengan guru khusus sendirian, dan di kelas anak harus berbagi dengan teman‐temannya dengan bahasa guru yang berbeda dengan terapisnya dan bersifat klasikal. Ia perlu belajar mengenal dan mengikuti peraturan di sekolahnya, berinteraksi/bersosialisasi dengan teman sebayanya dan harus mengerti instruksi guru dengan cepat.

Kelas transisi mulai digunakan di beberapa sekolah di kota‐kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, walaupun dengan nama yang berbeda‐beda tapi mempunyai fungsi dan tujuan yang kurang lebih sama.

  1. PROGRAM PENDIDIKAN INKLUSI

Program Pendidikan Inklusi dilaksanakan pada sekolah regular yang menerima anak MLK termasuk anak autistik. Karakteristik anak untuk program ini adalah anak sudah „sembuh“ yang artinya sudah mampu mengendalikan perilakunya sehingga tampak berperilaku normal, berkomunikasi dan berbicara normal, serta mempunyai wawasan akademik yang cukup sesuai anak seusianya. Program ini dapat berhasil bila ada:

  1. Keterbukaan dari sekolah umum
  2. Test masuk tidak didasari hanya oleh test IQ untuk anak normal
  3. Peningkatan SDM/guru terkait
  4. Proses shadowing/ guru pendamping dapat dilaksanakan
  5. Dukungan dari semua pihak di lingkungan sekolah
  6. Tersedianya tempat khusus (special unit) bila anak memerlukan terapi 1:1 di sekolah umum
  7. Sebelum masuk sekolah anak diperkenalkan pada lingkungan sekolah dengan mengikuti kegiatan tertentu bersama‐sama dengan anak‐anak reguler, seperti olah raga, musik, tari, upacara, dsb
  8. Idealnya dalam satu kelas sebaiknya hanya ada satu anak autistik
  9. Batasan kemampuan adalah program kurikulum menengah dan lanjut dari manual yang dibuat oleh Catherine Maurice, 1996

Sebaiknya anak autistik didampingi oleh seorang guru pembimbing khusus (GPK) dan/atau guru pendamping/shadow. Guru pembimbing khusus (GPK) adalah ortopedagog (tenaga ahli PLB) yang bertugas sebagai:

  1. Konsultan dalam menangani anak MLK
  2. Ikut serta dalam merencanakan program pembelajaran
  3. Memonitor pelaksanaan program pembelajaran
  4. Mengevaluasi pelaksanaan program pembelajaran

Sedangkan guru pendamping/shadow adalah seseorang yang dapat membantu guru kelas dalam mendampingi anak autistik pada saat diperlukan, sehingga proses pengajaran dapat berjalan lancer tanpa gangguan. Prasyarat menjadi guru pendamping/shadow adalah:

  1. Bukan asisten anak/helper
  2. Mempunyai latar belakang sebagai pendidik
  3. Bersifat terbuka dan mau bekerjasama
  4. Dedikasi tinggi dan tidak mudah menyerah
  5. Mengajarkan sopan‐santun, respek, tenggang rasa, empati
  6. Menjadi figur bagi seluruh siswa

Banyak persepsi yang salah mengenai guru pendamping ini. Guru pendamping bukanlah asisten anak disekolah yang bertugas membantu anak dalam segala hal. Guru kelas tetap mempunyai wewenang penuh akan kelasnya serta bertanggung jawab atas terlaksananya peraturan yang berlaku. Tugas seorang guru pendamping/ shadow adalah:

  1. Menjembatani instruksi antara guru dan anak
  2. Mengendalikan perilaku anak dikelas
  3. Membantu anak untuk tetap berkonsentrasi
  4. Membantu anak belajar bermain/berinteraksi dengan teman‐temannya
  5. Menjadi media informasi antara guru dan orangtua dalam membantu anak mengejar ketinggalan dari pelajaran dikelasnya.

Kiat dalam mengajar anak autistik di Program inklusi:

  1. Anak autistik baru ikut dalam kegiatan belajar 2 minggu setelah kegiatan dimulai (setelah masa orientasi)
  2. Anak duduk di meja paling depan, agar anak dapat berkonsentrasi dengan baik
  3. Bila anak sulit mengikuti seluruh kegiatan belajar, anak diberi kesempatan untuk mengikuti pelajaran yang diminati.
  4. Dalam waktu istirahat anak dilatih untuk bersosialisasi dengan bermain dengan teman‐teman yang lain.
  5. Melalui dedikasi dan toleransi yang tinggi dari para guru, program inklusi dapat berhasil dengan baik.

Program inklusi sudah banyak dilakukan oleh sekolah‐sekolah negeri dan swasta untuk tingkat TK, SD sampai SMU. Bahkan di Jakarta, beberapa sekolah sudah melakukan program ini sejak lama.

  1. PROGRAM PENDIDIKAN TERPADU

Pada kenyataannya dari kelas Transisi terevaluasi bahwa tidak semua anak autistik dapat transisi ke sekolah reguler. Kemampuan dan kebutuhan anak autistik berbeda‐beda, dimana ada yang dapat belajar bersama anak di sekolah reguler dalam satu kelas, ada yang hanya mampu bersama‐sama hanya untuk mata pelajaran tertentu saja. Bahkan ada yang sama sekali tidak dapat belajar dalam satu kelas. Karakteristik anak autistik seperti ini memerlukan penanganan secara intensif akan pelajaran yang tertinggal dari teman‐teman sekelasnya.

Dalam hal ini secara teknis pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dalam pendidikan terpadu memerlukan kelas khusus yang hanya akan digunakan oleh anak autistik jika anak tersebut memerlukan bantuan dari guru pembimbing khusus (GPK) atau guru pendamping (shadow), untuk pelajaran tertentu yang tidak dimengertinya. Jadi tidak selamanya anak tersebut berada dikelas khusus. Anak masih dapat ikut serta dalam kegiatan sekolah seperti saat upacara, kegiatan olah raga dan kesenian, karya wisata dsb. Program ini akan berhasil bila:

  1. Idealnya anak berhak memilih pelajaran yang ia mampu saja (Mempunyai IEP/Program Pendidikan Individu sesuai dengan kemampuannya)
  2. Anak dapat “tamat” (bukan lulus) dari sekolahnya karena telah selesai melewati pendidikan di kelasnya bersama‐sama teman sekelasnya/peers.
  3. Tersedianya tempat khusus (special unit) bila anak memerlukan terapi 1:1 di sekolah umum Contoh Sekolah Terpadu sudah mulai dirintis di berbagai kota besar seperti di Jakarta, Pekalongan, Surabaya dan Batam, walaupun masih mempunyai beberapa keterbatasan.
  4. SEKOLAH KHUSUS AUTISTIK

Sekolah ini diperuntukan bagi anak autistik yang tidak memungkinkan mengikuti pendidikan dan pengajaran di sekolah regular (terpadu dan inklusi). Karakteristik anak ini adalah sangat sulit untuk dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi di sekeliling mereka. Dalam hal ini, anak tersebut diberi pendidikan dan pengajaran yang difokuskan dalam program fungsional, misalnya Program Bina Diri (ADL), bakat dan minat, yang sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh anak autistik. Beberapa anak memperlihatkan potensi yang sangat baik dalam bidang tertentu misalnya olah raga, musik, melukis, komputer, matematika, ketrampilan dsb. Anak‐anak ini sebaiknya dimasukkan ke dalam Kelas khusus, sehingga potensi mereka dapat dikembangkan secara maksimal. Contohnya kelas ketrampilan, kelas pengembangan olahraga, kelas musik, kelas seni lukis, kelas komputer, dll.

Contoh program pendidikan di Sekolah Khusus Autistik di Yogyakarta, terdiri dari program dasar (kemampuan kognitif, bahasa, sensomotorik, kemandirian, sosialisasi, seni dan bekerja), program ketrampilan (melukis, memasak, menjahit, sablon, kerajinan kayu, dsb) dan program‐program lainnya yang disesuaikan dengan kemampuan anak.

  1. PROGRAM SEKOLAH DIRUMAH (HOMESCHOOLING PROGRAM)

Adapula anak‐anak autistik yang bahkan tidak mampu ikut serta dalam Sekolah Khusus karena keterbatasannya, yang mempunyai karakteristik autisme berat, seperti anak non verbal, retardasi mental, masalah motorik dan auditory dsb. Anak ini sebaiknya diberi kesempatan ikut serta dalam Program Sekolah Dirumah (Homeschooling Program). Penanganannya melalui suatu tim yang terdiri dari orang tua, tim medis, psikolog, ortopedagog, guru, para terapis dan pekerja sosial untuk merancang program pelayanan anak tersebut dirumah, sehingga hasil yang dicapai dapat optimal.

Tujuan Program Sekolah Dirumah (PSD) adalah:

  1. Untuk mengembangkan pengenalan diri
  2. Untuk mengembangkan sensor motorik
  3. Untuk mengembangkan berbahasa reseptif dan ekspresif, serta kemampuan sosialnya.
  4. Untuk mengembangkan motorik kasar dan moyorik halus
  5. Untuk mengembangkan kemampuan mengurus diri sendiri
  6. Untuk mengembangkan emosi dan mental spritual
  7. Untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku yang menyimpang

Keuntungan anak mengikuti PSD adalah:

  1. Orang tua dapat memberikan bimbingan sesuai kemampuan dan perkembangan anak
  2. Orang tua setiap saat mampu memonitor kegiatan anaknya
  3. Anak tidak harus berpergian yang dapat menimbulkan stress sehingga anak akan mengalami gangguan perilaku/tantrum.

Kelemahannya adalah:

  1. Kemampuan bersosialisasi anak kurang berkembang
  2. Anak kurang pengalaman orientasi lingkungan

Tempat untuk melakukan PSD perlu disediakan ruangan yang khusus digunakan untuk melaksanakan program, sehingga anak terlatih siap belajar pada saat masuk ruangan tersebut. Melalui kerjasama yang baik dengan orangtua dan orang‐orang disekitarnya, dapat dikembangkan potensi/strength anak. Kerjasama guru dan orangtua ini merupakan cara terbaik untuk mengeneralisasi program dan membentuk hubungan yang positif antara keluarga dan masyarakat. Bila memungkinkan, dengan dukungan dan kerjasama antara guru sekolah dan terapis di rumah anak‐anak ini dapat diberi kesempatan untuk mendapat persamaan pendidikan yang setara dengan sekolah reguler/SLB untuk bidang yang ia kuasai. Dilain pihak, perlu dukungan yang memadai untuk keluarga dan masyarakat sekitarnya untuk dapat menghadapi kehidupan bersama seorang autistik.

Contoh anak autistik yang menjalani Program Sekolah Dirumah sudah mulai terdapat di Jakarta. Umumnya orangtua bekerjasama dengan institusi (sekolah, pusat terapi, konsultan pendidikan, psikolog, dsb) dalam menyusun program yang secara cermat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak, terutama kemandirian dan program bina diri (ADL).

  1. PANTI (GRIYA) REHABILITASI AUTISTIK

Anak autistik dengan karakteristik mempunyai kemampuannya sangat rendah/ terbatas, tidak dapat mengikuti pendidikan di sekolah khusus dan banyak memerlukan perawatan, sebaiknya mereka dilayani di Panti (Griya) Rehabilitasi Autistik. Tujuan anak dimasukkan ke Panti (Griya) Rehabilitasi Autistik adalah:

  1. Untuk mengembangkan pengenalan diri
  2. Untuk mengembangkan sensori motor dan persepsi
  3. Untuk mengembangkan motorik kasar dan halus
  4. Untuk mengembangkan kemampuan berbahasa dan komunikasi
  5. Untuk mengembangkan bina diri, kemampuan social, mental dan spiritual
  6. Untuk mengembangkan ketrampilan kerja terbatas sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan potensinya.

Keuntungan anak dimasukkan ke Panti (Griya) Rehabilitasi Autistik adalah:

  1. Anak mendapat layanan sesuai kebutuhannya
  2. Potensi yang dimiliki dapat dikembangkan secara optimal
  3. Anak mendapatkan ketrampilan kerja terbatas yang dapat digunakan sebagai bekal untuk bekerja ditempat kerja terlindung (Shelter Workshop)
  4. Mendapatkan ketrampilan akademik yang terbatas dan fungsional

Untuk mengisi waktu luang selama berada di Panti (Griya) Rehabilitasi Autistik dapat dipakai untuk mengembangkan ketrampilan kerja produktif, seperti bercocok tanam, membuat telur asin, pertamanan tanaman hias, dll.

Contoh Griya Rehabilitasi Autistik yang ada di Jakarta (bersama‐sama dengan anak‐anak atau remaja dengan kecacatan lain) mempunyai fasilitas dalam pengembangan budidaya ikan lele, tanaman hias, dan penjualan makanan kecil/gorengan.

KESIMPULAN

Bentuk layanan pendidikan lanjutan sangat diperlukan, karena dalam layanan ini akan digali dan dikembangkan kemampuan dan potensi anak, sehingga akan memperlihatkan gambaran yang jelas mengenai tingkat keparahan serta keunggulan anak (child’s deficits and strengths), yang merupakan karakteristik spesifik dari tiap‐tiap individu. Berdasarkan karakteristik dan tingkat kemajuan anak yang dicapai selama program sebelumnya, dapat dipilih bentuk layanan pendidikan lanjutan yang paling sesuai. Penyesuaian ini sangat penting dalam mengembangkan potensi dan kemandirian anak autistik secara maksimal. Batasan karakteristik dan contoh program seperti yang dijelaskan pada berbagai bentuk pendidikan lanjutan merupakan panduan orangtua dalam memilih pendidikan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, potensi, bakat dan minat tiap individu anak autistik.

Anak autistik yang mendapatkan program intervensi dini dan terapi penunjang lainnya, dipersiapkan secara baik dalam kelas transisi serta mendapat kesempatan ikut serta dalam pendidikan lanjutan, seharusnya didukung oleh semua pihak, baik dari pihak guru, teman‐teman kelasnya (termasuk orang tua mereka), maupun lingkungan dan masyarakat sekitar. Mudah‐mudahan kita semua yang hadir disinimau mencoba, bahkan tertantang untuk membantu anak‐anak ini untuk maju menggapai masa depannya. Melalui dedikasi dan toleransi yang tinggi, insyaAllah usaha kita semua tidak sia‐sia. LET’S HELP THEM TO HELP THEMSELVES (MARI BANTU MEREKA MENJADI MANUSIA MANDIRI DAN BERGUNA)

(oleh Tri Gunadi, OTR (Ind), S.Psi)

Tinggalkan Komentar

Jadi yang pertama berkomentar!

Notifikasi
avatar
wpDiscuz